–>

Suara. com – Lingkungan tetangga, status sosial ekonomi, pendapatan, hingga tingkat pendidikan kira-kira berefek pada risiko penyakit buah kronis. Hal ini dinyatakan oleh penelitian dari  Drexel University’s Dornsife School of Public Health dengan terbit pada SSM Population Health.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara kedudukan sosial ekonomi dengan gangguan ginjal kronis.  

Melansir dari Medical Xpress, para pengkaji telah memeriksa 23. 692 orang dewasa di Philadelphia. Dalam belajar ini, para peneliti telah menyesuaikan usia individu, ras, jenis kelamin dan jenis asuransi kesehatan.

Penulis menemukan bahwa mereka yang tinggal pada lingkungan berstatus sosial ekonomi kecil (pendapatan ekonomi, lingkungan, dan pendidikan rendah) lebih cenderung memiliki aib ginjal dibandingkan mereka yang susunan di lingkungan dengan status baik ekonomi yang lebih tinggi.  

Selain itu lingkungan yang tidak membantu buat berjalan juga dikaitkan secara buruknya kontrol gula darah di pasien ginjal kronis.  

“Penemuan kami menyatakan bahwa orang yang susunan di lingkungan dengan sumber daya paling sedikit berada pada risiko tertinggi untuk mengalami penyakit buah, ” kata penulis senior Meera Harhay, MD, seorang profesor kedokteran di Drexel’s College of Medicine dan Dornsife School of Public Health.  

Ilustrasi ginjal. (sumber: Shutterstock)

Menurut Harhay, penelitian ini harus menjadi seruan kepada penyedia servis kesehatan untuk mengintegrasikan pengetahuan mengenai lingkungan pasien terutama bagi mereka yang sedang dalam proses pembelaan ginjal dan masyarakat berisiko.  

“Hasil ana juga menunjukkan bahwa lingkungan-lingkungan dengan mempromosikan aktivitas fisik memberi karakter protektif dalam hal tekanan darah dan pengelolaan gula darah, sedangkan lingkungan sebaliknya dapat memperburuk status yang merupakan faktor risiko aib ginjal, ” imbuhnya.  

Penyakit ginjal kronis ditandai dengan kerusakan ginjal yang tidak mampu menyaring sampah dalam tubuh secara efektif. Kondisi ini juga bisa timbul dengan keunggulan cairan di ginjal dari darah.  

“Studi ini menawarkan alat untuk membantu mengidentifikasi kelompok masyarakat dengan berisiko lebih tinggi terkena keburukan ginjal pada tahap awal jadi kondisi mereka dapat dikelola untuk mencegah penyakit ginjal kronis, ” kata Harhay.