Info seputar HK Hari Ini 2020 – 2021.

Suara. com – Kehamilan terjadi memerlukan besar sel yang saling bertemu, yakni sel telur dengan ada pada perempuan & sel sperma dari pria.

Dalam proses terjadinya kehamilan sendiri, mana yang lebih memiliki peran? Kesuburan adam atau kesuburan perempuan?

“Tentu saja keduanya (faktor pria dan wanita) sama-sama memengaruhi terjadinya kehamilan. Untuk terjadinya kehamilan yang sehat diperlukan kualitas sel telur dan sperma yang baik, ” kata sinse Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas, Endokrinologi & Reproduksi RS Pondok Bagus dr. Gita Pratama, Sp. OG kepada suara. com, Minggu (4/4/2021).

Oleh pokok itu, dokter Gita mengingatkan pentingnya menjaga keseburan, tertib untuk perempuan juga pria. Ia mengatakan, risiko provokasi kesuburan sama-sama dialami pada setiap pasangan.

Baca Juga: Sedang Hamil? Jangan Lalai Lakukan Prenatal Yoga Agar Tubuh Lebih Nyaman

“Pada wanita biasanya disebabkan oleh gangguan pematangan sel telur (gangguan ovulasi), tersumbatnya salah satu atau ke-2 saluran tuba dan endometriosis. Sedangkan faktor pria adalah berkurangnya jumlah atau konsentrasi sel sperma, berkurangnya pergerakan sperma yang baik (motilitas) dan berkurangnya bentuk (morfologi) sperma, ” jelasnya.

Pentignya menjaga berat badan langgeng ideal juga bukan semata-mata kepentikan estetika. Tapi juga terkait kesehatan secara umum dan pengaruh kesuburan.

Tabib Gita menyarankan agar pekerjaan fisik tetap dilakukan secara rutin, meski masih harus bekerja dari rumah.

Hanya saja khusus perempuan, olahraga yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya gangguan siklus haid. Jika kedudukan itu terjadi, tentu pematangan sel telur dan ovulasi akan terganggu.

“Sehingga bakal menurunkan kemungkinan terjadinya kehamilan, ” kata dr. Gita.

Menyuarakan Juga: Waspada, Olahraga Berlebihan Berpotensi Ganggu Kesuburan

Siklus bocor jadi yang teratur menjadi salah satu indikator adanya proses pematangan sel telur dan ovulasi. Siklus haid yang teratur terjadi secara jeda antara 21-35 hari sekali.

“Apabila haid tak teratur, misalnya kurang dibanding 21 hari sekali atau lebih dari 35 hari sekali, ada kemungkinan berlaku gangguan ovulasi. Namun situasi ini harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan USG oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan, ” ucapnya.