–>

Suara. com – Masa dunia terus berjuang melawan penyakit yang sangat menular, para sarjana dan peneliti medis bekerja sepanjang waktu untuk mengembangkan vaksin memutar efektif dan aman untuk Covd-19.

Menetapkan dicatat bahwa para ahli di seluruh dunia telah berulang kala meminta masyarakat umum untuk tidak menaruh semua harapan pada vaksin potensial dan terus mempraktikkan tindakan jarak sosial.

Faktanya bahwa vaksin untuk virus corona masih merupakan impian dengan jauh, karena bahkan kandidat tertinggi dalam perlombaan untuk mengembangkan vaksin potensial belum menyelesaikan uji jika tahap ketiga penting dari kandidat vaksin mereka.

Pertanyaan yang membayangi tak hanya kapan vaksin akan dikasih izin oleh otoritas pengawas, namun bagaimana tepatnya distribusi global vaksin ini akan berlangsung.

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gameleya, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2020. [Handout / Russian Direct Investment Fund / AFP]

Untuk memvaksinasi populasi 7 miliar, diperlukan kerja persis dan pemahaman yang masif kurun pembuat kebijakan, produsen, fasilitas penerapan, dan media pengiriman. Menjelaskan jangka waktu, kepala ilmuwan WHO Dr Soumya Swaminathan mengatakan dalam konvensi pers bahwa distribusi vaksin yang efektif diharapkan dapat dimulai di pertengahan 2021.

“Jadi secara realistis, jadi paruh kedua, pertengahan 2021 berantakan mungkin kuartal kedua, kuartal ke-3 2021 – adalah saat kita dapat mulai melihat dosis benar-benar mengalir ke negara-negara sehingga mereka dapat mulai mengimunisasi populasi mereka, ” katanya seperti dilansir dibanding Times of India.

“Kami mengharapkan hasil dari beberapa kandidat, yang sudah dalam uji coba Tahap 3, akan datang pada akhir tarikh atau awal tahun depan, sesudah itu mereka harus menskalakan manufaktur untuk menghasilkan ratusan juta ukuran. yang akan dibutuhkan, ” logat dia.

Dia menambahkan bahwa faktanya, dunia mau membutuhkan miliaran dosis, dan itu akan membutuhkan waktu untuk membuatnya.

“Jadi kita harus optimis dan realistis pada saat yang sama, ”tambah kepala ilmuwan WHO itu.